Apa Pilihanku Benar?

Hidup ini pilihan” inilah kata yang selalu aku ucapkan kepadanya. Walaupun hati tidak bisa pungkiri bahwa pilihan yang aku ambil ini sangat menyakitinya dan membuatku menderita. Aku memilih sekolah daripada dirinya, bukan karena aku tidak lagi mencintainya, tapi karena aku ingin fokus dengan sekolahku, aku juga sudah berjanji kepada kedua orangtuaku bahwa aku tidak akan pacaran dulu sebelum lulus. Orangtuaku takut kalau aku tidak lulus, dan menyianyiakan-nyiakan beasiswa yang membuat aku sekolah di universitas kedokteran yang mungkin aku tidak akan bisa sekolah di universitas terkenal ini, tanpa beasiswa itu. Aku tidak akan pernah melupakan kenangan kita, kamu dan semua tentangmu. “Aku janji akan kembali padamu kak” itulah janjiku kepadanya.
Setelah lulus, aku kembali ke indonesia. sekarang aku adalah seorang dokter. Orangtuaku sangat bangga kepadaku. Aku sekarang bekerja di sebuah rumah sakit negeri di Jakarta. Pekerjaanku sekarang ini sedikit membantu beban yang dipikul kedua orangtuaku. Ayahku yang hanya seorang petani yang sedang menyekolahnkan adikku satu-satunya di Universitas Pendidikan Indonedia (UPI) Bandung. Walaupun aku harus tinggal sendiri tanpa orangtuaku di jakarta, tapi jarak jakarta ke bandung tidak terlalu jauh dibanding dengan jarak sekolahku sebelumnya.
Aku sangat sibuk dengan sekolahku dan juga dengan pekerjaanku, sehingga aku melupakan janjiku untuknya, dia yang sebelumnya selalu ada di pikiranku, namun keadaan yang sebelumnya memaksaku untuk melupakan dia sejenak. Dia adalah Aditya kakak kelasku waktu aku duduk di bangku sma. Waktu aku pergi dia sedang meneruskan S2 nya di UPI Bandung. Mungkin dia sekarang sudah menjadi seorang dosen. Aku berusaha mencarinya, nomor teleponnya tidak aktif. Aku mencari tau dimana dia sekarang kepada teman-temannya, tapi teman-temannya tidak mengetahuinya. Ada salah satu temannya yang bilang katanya kalau dia sudah menikah, jadi aku memutuskan untuk berhenti mencarinya. Walaupun rasanya ingin sekali mencarinya, lalu bertemu dengannya dan berkata “aku sudah kembali kak”.
Adiku satu-satuku yang bernama erlin akan di wisuda, dia bersekolah di sekolah yang sama seperti kak adit, yaitu di UPI BANDUNG. Karena ayahku sedang sakit, dan ibu tidak bisa meninggalkan ayah sendiri di rumah. Akulah yang mendampingi adikku diwisuda. Ketika berjalan menuju aula, aku melihat sosok yang aku cari selama ini, dia sedang terburu-buru, memakai kemeja berwarna putih, sepatu hitam dan mengenakan kaca mata, dengan membawa beberapa buku di tangannya. Tapi dia berjalan sangat cepat, sehingga aku tidak bisa menyusulnya dan memastikan bahwa itu adalah kak adit. Selama acara berlangsung pikiranku hanya tertuju pada sosok yang aku lihat sebelum memasuki aula. Setelah acara selesai, tidak lupa kami berfoto-foto dulu, walaupun foto kami sangat hambar tanpa adanya ibu dan ayah. Ketika berjalan menuju tempat parkir, ada seseorang yang memanggil namaku “fida”. Ketika aku menoleh ke belakang di situ ada 2 orang sosok yang sangat aku kenal, salah satu di antaranya adalah orang yang aku cari selama ini, dia kak adit. sedangkan yang lainnya adalah temanku saat duduk di SMA. Sejenak aku berpikir, apa hubungan mereka? Apakah fani istrinya kak adit. Mereka pun datang ke arahku, seperti bertemu dengan teman-teman lama lainnya begitu juga aku dengan fani, tapi tidak dengan aku dan kak adit, karena fani tidak tau kalau kita saling kenal, dan bahkan tidak tau bahwa dulu kami adalah sepasang kekasih. “Kenalin kak ini fida temen SMA aku, dan kenalin juga fid ini kak adit pacar aku.” Kami salaman, aku tersenyum kepadanya walaupun miris dia tidak membalas senyumanku itu. “pacar” dia pacar kak adit, aku baru sadar kalau fani mengatakan bahwa dia itu pacar kak adit.
Hari yang cukup melelahkan dan hari yang penuh dengan kejutan walaupun kejutan ini tidak sebesar yang dipikirkan karena kak adit berarti belum menikah, tapi dia hanya pacaran. Ketika aku sedang merebahkan badanku di kasur melepaskan lelahku karena perjalanan dari bandung ke jakarta yang cukup melelahkan dan membayangkan kembali apa yang terjadi hari ini, jam menunjukan pukul 10.00 tiba-tiba ada telepon masuk, telepon itu dari fani karena tadi siang kami bertukaran nomor handphone. Setelah aku mengangkatnya, telepon itu hanya sebentar tapi berisi informasi yang sangat besar. Tak terasa air mata pun mengalir lalu menetes. Fani mengundangku untuk datang ke hari pernikahannya 2 minggu yang akan datang, aku berkata bahwa kalian belum bertunangan. Dia menjawabnya kalau kak adit setelah dari kampus lalu datang ke rumahku bersama orangtuanya dan melamarku secara mendadak. yang aku lakukan kanya menutup teleponnya. Sakit, perih, ambruk, hancur, remuk itulah yang kurasakan saat ini. Kenapa dia melamar fani setelah bertemu denganku, apakah dia ingin membuktikan kalau dia sudah mempunyai orang lain. Tuhan apakah aku salah ketika memilih cita-citaku dan cita-cita orangtuaku daripada memilih untuk tetap bersamanya waktu itu? Tapi sungguh aku sangat menyesal, tapi, apa yang harus aku sesali aku harus menyesali keadaan ini, ketika dia bersama orang lain, tapi bagaimana dengan gelar “dokter” ini apa aku harus menyesalinya. Tidak ini adalah anugerah dari tuhan yang sangat besar untuk keluargaku. Tapi ini adalah hal yang sangat menyakitkan untukku tuhan, ketika aku harus melihat dia bersama orang lain dan mengetahui jika dia akan hidup bersama orang lain.

Related Posts

Load comments

Comments